Suatu hari, Abdurrahman bin Nashir, salah
seorang Raja Cordova (Spanyol) di masa keemasan Islam, mengajak anaknya untuk
menunaikan shalat Jumat.
Mereka berdua kemudian mengambil shaf yang masih tersedia dan siap mendengar khutbah. Saat itu yang menjadi khatib adalah seorang ulama sangat kritis, Mundzir bin Sa’id.
Mereka berdua kemudian mengambil shaf yang masih tersedia dan siap mendengar khutbah. Saat itu yang menjadi khatib adalah seorang ulama sangat kritis, Mundzir bin Sa’id.
Mimbar khutbah itu, sebagaimana telah menjadi
budaya masyarakat Islam, benar-benar dimanfaatkannya untuk memberi nasehat
kepada semua jamaah, termasuk sang raja dan anaknya.
Mula-mula khatib membacakan ayat al-Qur`an,
“Apakah kamu mendirikan istana-istana pada setiap tanah yang tinggi untuk
kemegahan tanpa ditempati, dan kamu membuat benteng-benteng dengan harapan kamu
hidup kekal? Dan apabila kamu menyiksa, maka kamu lakukan secara kejam dan
bengis. Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. (As-Syu’ara [26]:
128 – 131)
Mundzir lalu menjelaskan melalui ayat di atas
bahwa betapa sesat, zalim, dan bejatnya seorang penguasa yang membangun
gedung-gedung mewah tapi melupakan Tuhan, melanggar syariat, dan
menghambur-hamburkan uang Negara. Karena bangunan semacam itu hanya
diperuntukkan bagi yang kaya dan berkuasa. Bangunan seperti itu sia-sia,
apalagi jika dananya diperoleh dari pajak rakyat.
Seusai shalat, anak sang raja bernama
al-Hakam naik pitam. Ia marah dan mengusulkan kepada ayahnya agar menggeser
sang khatib dari jabatannya sebagai Qadhi dan Imam Masjid.
Sang raja dengan lembut berkata, “Jangan
digeser, dia justru harus tetap shalat mengimami kita selama hidup saya dan
kamu, dan selama ia masih hidup, Insya Allah.”
Sang raja rupanya ingin mengajari anaknya,
sebagai penerus kekuasaannya, agar pandai mendengar, tidak mudah tersinggung,
apalagi jika nasehat itu diberikan oleh orang-orang yang berkarakter dan
memiliki integritas tinggi.
Orang-orang yang jujur dan bebas dari
kepentingan adalah penyelamat negara. Jika kritiknya diabaikan, maka tunggulah
saat kehancurannya.
Kekuatan Mendengar
Salah satu bentuk kelemahan manusia adalah
enggan mendengar suara-suara di sekitarnya. Mereka terlalu percaya diri dengan
apa yang dipikirkannya meski sebenarnya orang lain menderita akibat ulah dan
perbuatannya.
Padahal sebuah peradaban besar hanya bisa
tegak di tangan orang-orang yang pandai mendengar. Mereka tidak memilih-milih
siapa yang harus didengar dan yang harus diabaikan.
Justru suara orang-orang yang berpenampilan
bersahaja sering kali memiliki bobot luar biasa. Bahkan kritik tajam dan makian
mereka pun bermanfaat untuk perbaikan ke depan.
Sebaliknya, suara yang hanya berisi pujian
semata, yang berasal dari para penjilat, boleh jadi hanya menjerumuskan saja.
Kita semestinya menghargai upaya orang lain
yang dengan sungguh-sungguh mengumpulkan data tentang kita, menyusun, lalu
menganalisanya terhadap hal-hal yang boleh jadi belum kita ketahui. Bukankah
kita harus banyak bersyukur, karena tanpa harus banyak menghabiskan waktu dan
tenaga, orang lain justru telah menyumbangkan sesuatu yang sangat berharga bagi
kita?
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
(SAW) adalah seorang yang maksum, terpelihara dari perbuatan yang salah,
apalagi dosa. Beliau juga sangat pandai karena terbimbing oleh wahyu. Sekalipun
demikian, beliau masih mendengar pendapat para Sahabat, menerima usulnya, dan
menghargai sekecil apapun ide yang baik dari mereka.
Dalam perang Uhud, misalnya, beliau justru
memilih pendapat para Sahabat dan meninggalkan pendapatnya sendiri, pada saat
menentukan lokasi peperangan.
Ada dua hasil dari sikap mendengar yang
efektif. Pertama, hubungan baik. Seorang yang pandai mendengar sangat disukai
orang. Ia diterima kelompok mana saja, karena sikapnya yang tidak sombong dan
rendah hati.
Mau mendengar berarti menghargai orang lain. Mana ada orang yang tidak suka dihargai? Sebaliknya, mana ada orang yang suka tidak dihargai?
Mau mendengar berarti menghargai orang lain. Mana ada orang yang tidak suka dihargai? Sebaliknya, mana ada orang yang suka tidak dihargai?
Penghormatan melaui sikap mau mendengar ini
merupakan cermin akhlaqul karimah yang dicontohkan para Nabi. Bahkan Sulaiman,
seorang raja sekaligus nabi, mau mendengar suara semut, binatang kecil yang
oleh manusia diabaikan suaranya.
Kedua, melalui mendengar seorang bisa
belajar. Bagi pembelajar seperti ini, apa pun pembicaraan orang lain adalah
ilmu baginya.
Kita mesti berterima kasih kepada orang lain
yang mau berbicara. Sebab, melalui pembicaraannya, kita mendapat tambahan ilmu.
Betapa sering kita mencuri ilmu dari orang
lain dengan cara mendengar. Orang lain barangkali tidak sengaja mengajari kita,
tapi melalui pembicaraannya kita telah mencuri ilmu darinya. Mencuri yang halal
adalah mencuri ilmu melalui mendengar dari percakapan orang lain.
Karena itu sebaiknya jangan hanya mendengar
orang-orang yang dianggap top, penting, atau tokoh. Tapi, kita juga perlu
mendengar orang-orang biasa yang bersahaja dan berwawasan luas, tanpa pandang
bulu dari mana asalnya.
Mulai dari Keluarga
Lalu siapa saja yang perlu didengar? Tentu
saja yang harus didengar pertama kali adalah orang-orang dekat kita, keluarga
kita. Jangan lupa, mereka adalah orang-orang yang paling tulus mencintai kita.
Apa yang mereka katakan adalah sesuatu yang sesungguhnya, menunjukkan kecintaannya kepada kita. Persoalan bagaimana cara penyampaiannya, itu hal lain. Yang paling utama bagi kita adalah mendengar. Sekali lagi, mendengar!
Apa yang mereka katakan adalah sesuatu yang sesungguhnya, menunjukkan kecintaannya kepada kita. Persoalan bagaimana cara penyampaiannya, itu hal lain. Yang paling utama bagi kita adalah mendengar. Sekali lagi, mendengar!
Orangtua adalah orang nomor satu yang
ucapannya harus kita dengar, positif atau negatif, benar atau salah, kita tetap
wajib mendengarkannya. Tak boleh ada isyarat penolakan, apalagi sampai keluar
kata-kata “ah” (Al-Isra [17]): 23).
Berikutnya adalah suami atau istri kita. Bagi seorang isteri, perkataan suami harus didengar dengan sikap yang baik dan penuh penghormatan. Demikian juga bagi suami, suara isteri harus didengar untuk mengatahui keluhannya, harapannya, keinginannya, aspirasinya, dan seluruh isi hatinya.
Berikutnya adalah suami atau istri kita. Bagi seorang isteri, perkataan suami harus didengar dengan sikap yang baik dan penuh penghormatan. Demikian juga bagi suami, suara isteri harus didengar untuk mengatahui keluhannya, harapannya, keinginannya, aspirasinya, dan seluruh isi hatinya.
Suara isteri juga perlu didengar untuk
mendapatkan taushiyah (nasehat) darinya. Bukankah keluarga yang baik adalah
keluarga yang saling menasehati tentang kebenaran, kesabaran, dan kasih sayang?
Nabi Muhammad SAW adalah contoh suami
teladan. Beliau sangat menaruh perhatian kepada para isterinya. Beliau tidak
mendominasi pembicaraan, sebaliknya beliau mempersilahkan isterinya
mengungkapkan isi hati dan isi pikirannya sebelum beliau berbicara. Sebelum
memberi nasehat, beliau terlebih dahulu mendengarkan.
Dalam peristiwa Hudaibiyah, sejarah mencatat peristiwa penting. Di saat Rasulullah SAW galau untuk mencari cara apa lagi guna meredam kemarahan para Sahabatnya, juga keengganan mereka untuk mematuhi perintahnya, yaitu membatalkan niat umrahnya, Rasulullah SAW masuk ke tenda isterinya.
Dalam peristiwa Hudaibiyah, sejarah mencatat peristiwa penting. Di saat Rasulullah SAW galau untuk mencari cara apa lagi guna meredam kemarahan para Sahabatnya, juga keengganan mereka untuk mematuhi perintahnya, yaitu membatalkan niat umrahnya, Rasulullah SAW masuk ke tenda isterinya.
Saat itulah sang isteri mengusulkan agar
beliau memberi contoh terlebih dahulu dengan mencukur rambutnya. Ide dan
gagasan yang baik itu didengar oleh Nabi SAW dan dilakukannya. Hasilnya luar
biasa. Semua Sahabat akhirnya mengikutinya.
Contoh berikutnya adaah Nabi Ibrahim
Alaihissalam (AS), seorang bapak yang pandai mendengar. Sebelum mengeksekusi
perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala, beliau meminta pendapat anaknya terlebih
dahulu. Allah Ta’ala mengabadikan dialog indah tersebut dalam al-Qur`an surah
Ash-Shaffat [37] ayat 102.
Boleh saja Nabi Ibrahim AS menjalankan tugas dari Allah Ta’ala untuk menyembelih anaknya secara diam-diam, di saat anaknya tidur, umpamanya. Akan tetapi cara itu tidak dipilih olehnya. Beliau lebih senang jika perintah Allah Ta’ala tersebut dilakukan secara sadar oleh keduanya.
Boleh saja Nabi Ibrahim AS menjalankan tugas dari Allah Ta’ala untuk menyembelih anaknya secara diam-diam, di saat anaknya tidur, umpamanya. Akan tetapi cara itu tidak dipilih olehnya. Beliau lebih senang jika perintah Allah Ta’ala tersebut dilakukan secara sadar oleh keduanya.
sumber: www.hidayatullah.com