Minggu, 29 April 2012

ADA KEKUATAN DIBALIK MENDENGARKAN

Suatu hari, Abdurrahman bin Nashir, salah seorang Raja Cordova (Spanyol) di masa keemasan Islam, mengajak anaknya untuk menunaikan shalat Jumat.
Mereka berdua kemudian mengambil shaf yang masih tersedia dan siap mendengar khutbah. Saat itu yang menjadi khatib adalah seorang ulama sangat kritis, Mundzir bin Sa’id.
Mimbar khutbah itu, sebagaimana telah menjadi budaya masyarakat Islam, benar-benar dimanfaatkannya untuk memberi nasehat kepada semua jamaah, termasuk sang raja dan anaknya.
Mula-mula khatib membacakan ayat al-Qur`an, “Apakah kamu mendirikan istana-istana pada setiap tanah yang tinggi untuk kemegahan tanpa ditempati, dan kamu membuat benteng-benteng dengan harapan kamu hidup kekal? Dan apabila kamu menyiksa, maka kamu lakukan secara kejam dan bengis. Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. (As-Syu’ara [26]: 128 – 131)
Mundzir lalu menjelaskan melalui ayat di atas bahwa betapa sesat, zalim, dan bejatnya seorang penguasa yang membangun gedung-gedung mewah tapi melupakan Tuhan, melanggar syariat, dan menghambur-hamburkan uang Negara. Karena bangunan semacam itu hanya diperuntukkan bagi yang kaya dan berkuasa. Bangunan seperti itu sia-sia, apalagi jika dananya diperoleh dari pajak rakyat.
Seusai shalat, anak sang raja bernama al-Hakam naik pitam. Ia marah dan mengusulkan kepada ayahnya agar menggeser sang khatib dari jabatannya sebagai Qadhi dan Imam Masjid.
Sang raja dengan lembut berkata, “Jangan digeser, dia justru harus tetap shalat mengimami kita selama hidup saya dan kamu, dan selama ia masih hidup, Insya Allah.”
Sang raja rupanya ingin mengajari anaknya, sebagai penerus kekuasaannya, agar pandai mendengar, tidak mudah tersinggung, apalagi jika nasehat itu diberikan oleh orang-orang yang berkarakter dan memiliki integritas tinggi.
Orang-orang yang jujur dan bebas dari kepentingan adalah penyelamat negara. Jika kritiknya diabaikan, maka tunggulah saat kehancurannya.
Kekuatan Mendengar
Salah satu bentuk kelemahan manusia adalah enggan mendengar suara-suara di sekitarnya. Mereka terlalu percaya diri dengan apa yang dipikirkannya meski sebenarnya orang lain menderita akibat ulah dan perbuatannya.
Padahal sebuah peradaban besar hanya bisa tegak di tangan orang-orang yang pandai mendengar. Mereka tidak memilih-milih siapa yang harus didengar dan yang harus diabaikan.
Justru suara orang-orang yang berpenampilan bersahaja sering kali memiliki bobot luar biasa. Bahkan kritik tajam dan makian mereka pun bermanfaat untuk perbaikan ke depan.
Sebaliknya, suara yang hanya berisi pujian semata, yang berasal dari para penjilat, boleh jadi hanya menjerumuskan saja.
Kita semestinya menghargai upaya orang lain yang dengan sungguh-sungguh mengumpulkan data tentang kita, menyusun, lalu menganalisanya terhadap hal-hal yang boleh jadi belum kita ketahui. Bukankah kita harus banyak bersyukur, karena tanpa harus banyak menghabiskan waktu dan tenaga, orang lain justru telah menyumbangkan sesuatu yang sangat berharga bagi kita?
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) adalah seorang yang maksum, terpelihara dari perbuatan yang salah, apalagi dosa. Beliau juga sangat pandai karena terbimbing oleh wahyu. Sekalipun demikian, beliau masih mendengar pendapat para Sahabat, menerima usulnya, dan menghargai sekecil apapun ide yang baik dari mereka.
Dalam perang Uhud, misalnya, beliau justru memilih pendapat para Sahabat dan meninggalkan pendapatnya sendiri, pada saat menentukan lokasi peperangan.
Ada dua hasil dari sikap mendengar yang efektif. Pertama, hubungan baik. Seorang yang pandai mendengar sangat disukai orang. Ia diterima kelompok mana saja, karena sikapnya yang tidak sombong dan rendah hati.
Mau mendengar berarti menghargai orang lain. Mana ada orang yang tidak suka dihargai? Sebaliknya, mana ada orang yang suka tidak dihargai?
Penghormatan melaui sikap mau mendengar ini merupakan cermin akhlaqul karimah yang dicontohkan para Nabi. Bahkan Sulaiman, seorang raja sekaligus nabi, mau mendengar suara semut, binatang kecil yang oleh manusia diabaikan suaranya.
Kedua, melalui mendengar seorang bisa belajar. Bagi pembelajar seperti ini, apa pun pembicaraan orang lain adalah ilmu baginya.
Kita mesti berterima kasih kepada orang lain yang mau berbicara. Sebab, melalui pembicaraannya, kita mendapat tambahan ilmu.
Betapa sering kita mencuri ilmu dari orang lain dengan cara mendengar. Orang lain barangkali tidak sengaja mengajari kita, tapi melalui pembicaraannya kita telah mencuri ilmu darinya. Mencuri yang halal adalah mencuri ilmu melalui mendengar dari percakapan orang lain.
Karena itu sebaiknya jangan hanya mendengar orang-orang yang dianggap top, penting, atau tokoh. Tapi, kita juga perlu mendengar orang-orang biasa yang bersahaja dan berwawasan luas, tanpa pandang bulu dari mana asalnya.
Mulai dari Keluarga
Lalu siapa saja yang perlu didengar? Tentu saja yang harus didengar pertama kali adalah orang-orang dekat kita, keluarga kita. Jangan lupa, mereka adalah orang-orang yang paling tulus mencintai kita.
Apa yang mereka katakan adalah sesuatu yang sesungguhnya, menunjukkan kecintaannya kepada kita. Persoalan bagaimana cara penyampaiannya, itu hal lain. Yang paling utama bagi kita adalah mendengar. Sekali lagi, mendengar!
Orangtua adalah orang nomor satu yang ucapannya harus kita dengar, positif atau negatif, benar atau salah, kita tetap wajib mendengarkannya. Tak boleh ada isyarat penolakan, apalagi sampai keluar kata-kata “ah” (Al-Isra [17]): 23).
Berikutnya adalah suami atau istri kita. Bagi seorang isteri, perkataan suami harus didengar dengan sikap yang baik dan penuh penghormatan. Demikian juga bagi suami, suara isteri harus didengar untuk mengatahui keluhannya, harapannya, keinginannya, aspirasinya, dan seluruh isi hatinya.
Suara isteri juga perlu didengar untuk mendapatkan taushiyah (nasehat) darinya. Bukankah keluarga yang baik adalah keluarga yang saling menasehati tentang kebenaran, kesabaran, dan kasih sayang?
Nabi Muhammad SAW adalah contoh suami teladan. Beliau sangat menaruh perhatian kepada para isterinya. Beliau tidak mendominasi pembicaraan, sebaliknya beliau mempersilahkan isterinya mengungkapkan isi hati dan isi pikirannya sebelum beliau berbicara. Sebelum memberi nasehat, beliau terlebih dahulu mendengarkan.
Dalam peristiwa Hudaibiyah, sejarah mencatat peristiwa penting. Di saat Rasulullah SAW galau untuk mencari cara apa lagi guna meredam kemarahan para Sahabatnya, juga keengganan mereka untuk mematuhi perintahnya, yaitu membatalkan niat umrahnya, Rasulullah SAW masuk ke tenda isterinya.
Saat itulah sang isteri mengusulkan agar beliau memberi contoh terlebih dahulu dengan mencukur rambutnya. Ide dan gagasan yang baik itu didengar oleh Nabi SAW dan dilakukannya. Hasilnya luar biasa. Semua Sahabat akhirnya mengikutinya.
Contoh berikutnya adaah Nabi Ibrahim Alaihissalam (AS), seorang bapak yang pandai mendengar. Sebelum mengeksekusi perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala, beliau meminta pendapat anaknya terlebih dahulu. Allah Ta’ala mengabadikan dialog indah tersebut dalam al-Qur`an surah Ash-Shaffat [37] ayat 102.
Boleh saja Nabi Ibrahim AS menjalankan tugas dari Allah Ta’ala untuk menyembelih anaknya secara diam-diam, di saat anaknya tidur, umpamanya. Akan tetapi cara itu tidak dipilih olehnya. Beliau lebih senang jika perintah Allah Ta’ala tersebut dilakukan secara sadar oleh keduanya.

sumber: www.hidayatullah.com