Jumat, 09 Maret 2012
Balaslah Kezaliman Dengan Memaafkan
Negeri itu menjadi saksi abadi. Di sana dahulu mereka tiada henti-hentinya menfitnahnya. Juga menyakiti dan melemparinya dengan kotoran binatang, kayu, batu, bahkan potongan besi.
Mereka juga pernah memboikotnya hingga kelaparan, mengejar, bahkan berusaha membunuhnya berkali-kali. Sampai akhirnya ia harus terusir dari tanah kelahirannyasendiri.
Mereka juga selalu mengobarkan peperangan yang membuatnya kehilangan orang-orang yang dicintainya.
Namun kini dia kembali ke negeri itu sebagai pemimpin besar. Pemimpin semua kaum Muslim. Kedatangannya dikawal pasukan berjumlah sepuluh ribu orang yang sangat setia dan siap melaksanakan apa pun perintahnya.
Sementara mereka yang dulu berbuat semena-mena luar biasa katakutan. Sebagiannya bahkan melarikan diri dengan sembunyi-sembunyi.
Haruskah Membalas?
Apa kiranya tindakan yang pantas diberikan Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW), sang pemimpin itu, kepada penduduk negeri yang dulu sangat zalim kepadanya dan kini tak punya kekuatan apa-apa?
Apakah ia akan membalas kejahatan mereka sebagaimana dulu ketika ia lemah dan ditindas oleh mereka?
Sa’ad bin Ubadah, salah seorang komandan pasukan Muslim yang memegang bendera pasukan dan merasakan betul betapa besar permusuhan bangsa Arab ketika itu, berteriak dengan lantang, “Hari ini adalah hari pertempuran! Hari ini dihalalkan semua yang terlarang! Hari ini Allah telah membuat kalian terhina!”
Namun, Muhammad SAW berkata sebaliknya.”Hari ini adalah hari Ka’bah harus dihormati! Hari ini kalian akan dimuliakan oleh Allah!”
Beliau bahkan memerintahkan agar bendera pasukan dialihkan dari Sa’ad kepada anak lelakinya karena khawatir kalau-kalau Sa’ad bertindak kasar kepada penduduk negeri itu.
Sesaat kemudian beliau berkhutbah di hadapan para tawanan yang dulu menzalimi beliau. “Menurut pendapat kalian, tindakan apakah yang hendak aku ambil terhadap kalian?”
Mereka pun serentak menyahut, “Tentu yang baik-baik wahai saudara yang mulia dan putra saudara yang mulia!”
Beliau pun berkata,”Aku katakan kepada kalian apa yang dahulu pernah dikatakan oleh Nabi Yusuf kepada saudara-saudaranya. Tak ada hukuman apa pun terhadap kalian. Pergilah kalian semua! Kalian semua bebas!”
Duhai, betapa besar jiwanya. Mereka yang dulu memusuhinya mengakui kebesaran jiwa sang pemimpin itu. Hati mereka pun terbuka dan justru berbondong-bondong menjadi pengikut setianya.
Mungkin kita bisa merasakan bagaimana keharuan menyelimuti bangsa Arab ketika itu. Orang yang dahulu mereka sakiti, bahkan juga keluarga dan para Sahabatnya, justru mau memaafkan mereka.
Lebih mengharukan lagi, akibat tindakan yang spektakuler tersebut, hubungan yang dulu terputus kini tersambung kembali. Hati yang terluka tersembuhkan lagi. Yang semula lawan berubah menjadi teman. Yang sebelumnya jahat berubah menjadi sahabat. Inilah dahsyatnya memaafkan.
Sehat Jiwa
Meski memaafkan bisa melahirkan kemuliaan, kita sendiri sering merasa berat melakukannya. Yang muncul justru sikap reaktif.
Ketika ada orang yang menyakiti kita, dengan alasan keadilan, kita pun refleks membalasnya. Bahkan tidak jarang malah berlebihan.
Kalau pun tidak mampu membalas, masih ada rasa sakit tersimpan di hati. Ada rasa dendam.
Memaafkan memang terasa berat, tapi tidak memaafkan juga memberikan efek merugikan yang tidak ringan. Orang yang membawa dendam sama saja dengan membawa beban berat sepanjang waktu. Hati ini akan sakit kala teringat seseorang yang menyakiti kita. Apalagi kalau bertemu langsung.
Rasa sakit di hati itu sesungguhnya malah semakin membelenggu jiwa kita sendiri. Potensi kita tak bisa optimal karena adanya beban itu. Berpikir pun tidak jernih lagi. Selalu berprasangka negatif.
Itulah musibah besar yang bisa mematikan pertumbuhan iman kita. Lebih-lebih bisa menutup hidup kita dari rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bukankah tanda adanya iman adalah menyintai saudaranya? Amal-amal kebaikan kita pun bisa hangus terbakar karena ada hasud pada orang yang belum kita maafkan.
Rasulullah SAW bersabda, “Hasud dapat memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu,” (RiwayatAbu Dawud dan Ibnu Majah).
Sebaliknya, dengan memaafkan, ada peluang bagi kita untuk menjadi lebih baik. Dengan memaafkan, orang yang semula memusuhi bisa menjadi teman dekat. Bahkan, menjadi pembela setia, karena mereka melihat kebesaran jiwa yang mau memaafkan.
Begitu kita mampu memaafkan, beban yang menggelayut dalam jiwa pun terlepas. Kita merasa terbebas dari belenggu. Jiwa kita pun semakin tenteram.
Mengundang Rahmat
Memaafkan termasuk perbuatan baik yang sangat utama nilainya. Memaafkan dapat mendekatkan kita pada rahmat Allah Ta’ala, sebagaimana firman-Nya,”Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat pada orang-orang yang berbuat kebaikan.” (Al A’raaf [7]: 56).
Memaafkan kesalahan orang lain bukan berarti kita membiarkan kesalahan mereka. Bukan pula kita lantas menganggap kesalahan itu sebagai kebenaran.
Kita memaafkan orangnya, tapi kita harus tetap menganggap kesalahannya sebagai sebuah kesalahan. Apalagi jika hal itu masalah prinsip.
Dengan memaafkan orangnya, kita menjadi jernih melihat masalah yang kita hadapi. Yang kita lakukan sekadar mengingatkan kesalahan mereka demi kebaikan mereka sendiri, bukan untuk melampiaskan kejengkelan kita. Dengan begitu kita bisa menjadi orang baik yang memperbaiki, shalih dan mushlih.
Membiarkan diri kita sakit hati sama sekali tak bisa menyelesaikan masalah. Lebih parah, membalasnya malah bisa kian memperburuk masalah.
Orang yang tidak mau memaafkan dan terus mempersoalkan, tidak akan mampu mengambil manfaat dan hikmah untuk kebaikan hidupnya. Rasa sakit hati juga menunjukkan kita kurang sabar dan ridha dengan ketentuan Allah Ta’ala.
Dengan tidak mau memaafkan, kita kehilangan kesempatan meraih derajat kemuliaan.
Jika kita mampu mengatasi ego dan tidak terburu menyikapi suatu masalah, kita akan mampu memaafkan dan mengambil hikmah.
Karena itu, saat hati marah, berzikirlah dengan memperbanyak istighfar. Saat zikir, hati akan lebih tenang dan jernih. Dengan zikir, rahmat Allah Ta’ala pun turun dan bisa kita akses untuk melunakkan hati.
Jika kesadaran jernih, kita bisa bersikap arif, tidak reaktif. Inilah yang dicontohkan Rasulullah SAW sebagaimana firman Allah Ta’ala,”Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka. ” (Ali Imran [3]: 159)
Hati yang jernih dan lapang akan bisa memahami keadaan orang lain dari sudut pandang orang itu.Mengapa mereka berbuat aniaya seperti itu? Mungkin karena ketidaktahuan mereka atau karena terjepit oleh keadaan.
Dengan kejernihan dan lapangnya hati, kita pun bisa bersyukur tidak mengalami hal demikian. Peristiwa itu bisa menjadi cermin yang lebih membuka hati kita. Kita bersyukur, Allah Ta’ala telah mengingatkan melalui kejadian yang menimpa kita.
Dengan kejernihan hati kita bisa membaca hikmah di balik kejadian yang menimpa kita. Karena tidak ada satu peristiwa pun yang menimpa kecuali telah dikehendaki Allah Ta’ala.
Kita jangan hanya terjebak menyesali dan sakit hati dengan kesalahan orang lain. Tetapi lihatlah hikmah di balik kejadian semua itu. Memaafkan akan melapangkan jiwa dan melunakkan hati. Nah mari kita petik dahsyatnya memaafkan dengan belajar memaafkan.
Sumber: www.hidayatullah.com
Kamis, 08 Maret 2012
Meniti Tangga Taqwa
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan Islam.” (Ali Imran [3]: 102)
Mukaddimah
Pesan utama setiap khutbah Jumat adalah ajakan untuk meningkatkan ketakwaan. Seruan takwa ini disampaikan berulang-ulang. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya persoalan tersebut. Tetapi, di sisi lain ajakan kepada takwa seringkali menjadi klise, diulang-ulang tetapi kehilangan makna. Seolah-olah ia bisa diperoleh dengan mudah, bahkan siapa pun yang mengaku Muslim sudah dianggap sebagai orang yang bertakwa, tanpa usaha sungguh-sungguh untuk meraihnya. Orang akan marah jika dikatakan bahwa ia tidak termasuk orang bertakwa atau belum mencapai derajat takwa.
Pesan utama setiap khutbah Jumat adalah ajakan untuk meningkatkan ketakwaan. Seruan takwa ini disampaikan berulang-ulang. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya persoalan tersebut. Tetapi, di sisi lain ajakan kepada takwa seringkali menjadi klise, diulang-ulang tetapi kehilangan makna. Seolah-olah ia bisa diperoleh dengan mudah, bahkan siapa pun yang mengaku Muslim sudah dianggap sebagai orang yang bertakwa, tanpa usaha sungguh-sungguh untuk meraihnya. Orang akan marah jika dikatakan bahwa ia tidak termasuk orang bertakwa atau belum mencapai derajat takwa.
Jika menilik janji-janji Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap orang-orang yang bertakwa, kita bisa menyimpulkan bahwa orang bertakwa memiliki kedudukan tertinggi di mata Allah. Tak heran, sebab orang yang bertakwa mendapat jaminan diampuni dosa-dosanya. Selain itu, ia juga bakal mendapat rezeki yang tak disangka-sangka, hingga janji-janji yang lain berupa kemudahan dalam segala urusannya. Namun sayang, menengok realitas umat Islam saat ini rasanya jauh sekali dari janji-janji Allah tersebut. Tentunya bukan karena Allah ingkar janji, tapi kualitas umat Islam yang hingga saat ini belum mampu mencapai syarat sebagai orang bertakwa yang berhak meraih janji keberuntungan dari Allah tersebut.
Makna Ayat
Imam ar-Raghib al-Ashfani mendefinisikan takwa sebagai upaya menjaga diri dari sesuatu yang menimbulkan dosa, yaitu dengan jalan meninggalkan apa saja yang dilarang Allah, bahkan meninggalkan sesuatu, yang sebenarnya tidak dilarang, karena semata-mata takut terjerumus ke dalam sesuatu yang dilarang atau dosa. Nampak jelas dari pengertian tersebut, jika orang bertakwa adalah orang yang senantiasa berhati-hati dalam segala urusan, bahkan terhadap perkara-perkara yang mubah (diperbolehkan). Alih-alih mendatangi sesuatu yang haram, wilayah syubhat (meragukan) saja niscaya ia tinggalkan. Hal ini senada dengan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Seorang hamba tidaklah akan bisa mencapai derajat ketakwaan sehingga ia meninggalkan apa yang tidak dilarang, supaya tidak terjerumus pada hal- hal yang dilarang.” (Riwayat at-Tirmidzi).
Imam ar-Raghib al-Ashfani mendefinisikan takwa sebagai upaya menjaga diri dari sesuatu yang menimbulkan dosa, yaitu dengan jalan meninggalkan apa saja yang dilarang Allah, bahkan meninggalkan sesuatu, yang sebenarnya tidak dilarang, karena semata-mata takut terjerumus ke dalam sesuatu yang dilarang atau dosa. Nampak jelas dari pengertian tersebut, jika orang bertakwa adalah orang yang senantiasa berhati-hati dalam segala urusan, bahkan terhadap perkara-perkara yang mubah (diperbolehkan). Alih-alih mendatangi sesuatu yang haram, wilayah syubhat (meragukan) saja niscaya ia tinggalkan. Hal ini senada dengan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Seorang hamba tidaklah akan bisa mencapai derajat ketakwaan sehingga ia meninggalkan apa yang tidak dilarang, supaya tidak terjerumus pada hal- hal yang dilarang.” (Riwayat at-Tirmidzi).
Butuh Proses
Takwa adalah sebuah proses. Layaknya tangga titian, maka ia mempunyai anak tangga sebagai jenjang tahapan dalam mencapainya. Para ulama terdahulu telah mengajarkan bagaimana mencapai derajat sebenar-benarnya takwa itu. Tak lain takwa merupakan buah dari keimanan yang kokoh yang dipupuk dengan khauf (merasa takut terhadap azab dan murka Allah), raja’ (selalu berharap atas limpahan rahmat Allah) dan muraqabatullah (merasakan pengawasan Allah).
Takwa adalah sebuah proses. Layaknya tangga titian, maka ia mempunyai anak tangga sebagai jenjang tahapan dalam mencapainya. Para ulama terdahulu telah mengajarkan bagaimana mencapai derajat sebenar-benarnya takwa itu. Tak lain takwa merupakan buah dari keimanan yang kokoh yang dipupuk dengan khauf (merasa takut terhadap azab dan murka Allah), raja’ (selalu berharap atas limpahan rahmat Allah) dan muraqabatullah (merasakan pengawasan Allah).
Proses pertama yang harus dilalui dalam perjalanan menuju takwa adalah adanya khauf atau rasa takut terhadap azab dan murka Allah. Untuk menumbuhkan rasa takut ini, pertama-tama kita harus mengenali dosa dan akibatnya. Mengenal apa saja yang dilarang oleh Allah serta dampak dari perbuatan itu. Ada kalanya orang melakukan perbuatan dosa semata-mata karena ia tidak tahu jika yang dilakukannya justru dilarang dalam agama. Terlebih jika hal itu sudah lumrah dilakukan orang. Dengan perkembangan zaman, tak sedikit perbuatan dosa dan maksiat lalu direkayasa sedemikian rupa sehingga tidak tampak lagi keburukannya. Alhasil, manusia tak mampu lagi membedakan antara hadiah dan suap, antara riba dan jual beli, antara seni dan pornografi dan sebagainya.
Setelah mengenali dosa-dosa, hendaknya ia menyadari bahwa setiap dosa sekecil apa pun niscaya dicatat dan dibalas oleh Allah pada hari pembalasan nanti. Bisa jadi dosa-dosa yang tidak diperhitungkan ini yang akan menggelincirkan manusia ke dalam neraka. Berikutnya, seseorang juga harus khawatir sekiranya ia tak mampu lagi bertaubat, baik karena ajal menjemput atau karena terjerat oleh belenggu dosa-dosa yang ia perbuat. Awalnya, mungkin iseng mencoba berbuaat dosa, lalu mengulangi dan mengulanginya lagi hingga akhirnya terjerat oleh dosa dan kemaksiatan tanpa mampu membebaskan diri lagi.
Satu hal yang pasti, setiap perbuatan dosa akan menelurkan dosa-dosa berikutnya. Orang yang berjudi misalnya, kalau menang maka menghamburkan duit itu dengan kemaksiatan yang lain: mabuk-mabukan atau bahkan berzina. Tidak mungkin ia sumbangkan untuk membangun masjid. Sebaliknya, jika ia kalah taruhan, bisa jadi ia gelap mata melakukan kekerasan, pencurian, dan bahkan pembunuhan.
Titian tangga takwa berikutnya adalah raja’ atau harapan atas limpahan rahmat Allah kepada hamba-Nya. Untuk menumbuhkan rasa harap ini hendaknya kita mengenali setiap kebaikan. Mengenal apa saja yang diperintahkan Allah. Makan, minum, tidur, bekerja, melakukan hubungan suami-istri dan sebagainya adalah hal-hal keseharian yang dikerjakan manusia. Seringkali orang melakukannya semata-mata insting kemanusiaan tanpa menyadari bahwa itu perintah Allah. Karena itu, hendaknya kita menyadari bahwa Allah memerintahkan kepada kita setiap kebaikan dari hal terkecil sampai yang terbesar. Untuk setiap kebaikan, Allah menyediakan balasan yang berlipat ganda. Bisa jadi manusia tidak menghargai kebaikan kita, tetapi sungguh Allah tidak pernah menyia-nyiakan kebaikan itu sekecil apa pun.
“…Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan.” (Hud [11]: 115).
Anak tangga berikutnya adalah muraqabatullah atau merasakan pengawasan Allah. Orang yang bertakwa selalu siap menyambut perintah Allah. Di mana saja dan kapan saja. Ketika sendirian maupun ketika bersama orang lain. Mereka juga meninggalkan setiap keburukan. Di mana saja dan kapan saja. Ketika sendirian maupun ketika bersama orang lain. Bukanlah muraqabah ketika orang itu hanya mampu menjalankan kebaikan saat bersama banyak orang dan tidak bisa lagi melakukannya ketika sendirian. Demikian juga ketika orang sanggup meninggalkan keburukan hanya saat bersama banyak orang, tetapi berani mengerjakannya ketika seorang diri.
Karenanya, para ulama membedakan antara hal-hal yang seharusnya dilakukan secara terang-terangan dan mana yang sebaiknya dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Amalan yang bersifat wajib seperti shalat fardhu, zakat, puasa Ramadhan, menutup aurat, lebih baik ditampakkan bahkan sebagiannya memang harus dilihat oleh orang lain. Sebaliknya, amalan sunnah seperti shalat sunnah, puasa sunnah, sedekah, sebaiknya dikerjakan sembunyi-sembunyi, kecuali kita yakin bahwa hal itu untuk syiar Islam serta tidak menodai keikhlasan kita.
Shalat fardhu ‘wajib’ dilaksanakan berjamaah di masjid sedang shalat sunnah dianjurkan dikerjakan di rumah masing-masing. Jika seseorang menyadari akan pengawasan Zat Yang Mahatahu, niscaya mengantarkan ia untuk selalu berhati-hati dan merasa khawatir terjerumus dalam dosa serta berhati-hati agar tidak ada perintah-Nya yang terlalaikan.Sumber: www.hidayatullah.com
Langganan:
Postingan (Atom)