Minggu, 29 April 2012

ADA KEKUATAN DIBALIK MENDENGARKAN

Suatu hari, Abdurrahman bin Nashir, salah seorang Raja Cordova (Spanyol) di masa keemasan Islam, mengajak anaknya untuk menunaikan shalat Jumat.
Mereka berdua kemudian mengambil shaf yang masih tersedia dan siap mendengar khutbah. Saat itu yang menjadi khatib adalah seorang ulama sangat kritis, Mundzir bin Sa’id.
Mimbar khutbah itu, sebagaimana telah menjadi budaya masyarakat Islam, benar-benar dimanfaatkannya untuk memberi nasehat kepada semua jamaah, termasuk sang raja dan anaknya.
Mula-mula khatib membacakan ayat al-Qur`an, “Apakah kamu mendirikan istana-istana pada setiap tanah yang tinggi untuk kemegahan tanpa ditempati, dan kamu membuat benteng-benteng dengan harapan kamu hidup kekal? Dan apabila kamu menyiksa, maka kamu lakukan secara kejam dan bengis. Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. (As-Syu’ara [26]: 128 – 131)
Mundzir lalu menjelaskan melalui ayat di atas bahwa betapa sesat, zalim, dan bejatnya seorang penguasa yang membangun gedung-gedung mewah tapi melupakan Tuhan, melanggar syariat, dan menghambur-hamburkan uang Negara. Karena bangunan semacam itu hanya diperuntukkan bagi yang kaya dan berkuasa. Bangunan seperti itu sia-sia, apalagi jika dananya diperoleh dari pajak rakyat.
Seusai shalat, anak sang raja bernama al-Hakam naik pitam. Ia marah dan mengusulkan kepada ayahnya agar menggeser sang khatib dari jabatannya sebagai Qadhi dan Imam Masjid.
Sang raja dengan lembut berkata, “Jangan digeser, dia justru harus tetap shalat mengimami kita selama hidup saya dan kamu, dan selama ia masih hidup, Insya Allah.”
Sang raja rupanya ingin mengajari anaknya, sebagai penerus kekuasaannya, agar pandai mendengar, tidak mudah tersinggung, apalagi jika nasehat itu diberikan oleh orang-orang yang berkarakter dan memiliki integritas tinggi.
Orang-orang yang jujur dan bebas dari kepentingan adalah penyelamat negara. Jika kritiknya diabaikan, maka tunggulah saat kehancurannya.
Kekuatan Mendengar
Salah satu bentuk kelemahan manusia adalah enggan mendengar suara-suara di sekitarnya. Mereka terlalu percaya diri dengan apa yang dipikirkannya meski sebenarnya orang lain menderita akibat ulah dan perbuatannya.
Padahal sebuah peradaban besar hanya bisa tegak di tangan orang-orang yang pandai mendengar. Mereka tidak memilih-milih siapa yang harus didengar dan yang harus diabaikan.
Justru suara orang-orang yang berpenampilan bersahaja sering kali memiliki bobot luar biasa. Bahkan kritik tajam dan makian mereka pun bermanfaat untuk perbaikan ke depan.
Sebaliknya, suara yang hanya berisi pujian semata, yang berasal dari para penjilat, boleh jadi hanya menjerumuskan saja.
Kita semestinya menghargai upaya orang lain yang dengan sungguh-sungguh mengumpulkan data tentang kita, menyusun, lalu menganalisanya terhadap hal-hal yang boleh jadi belum kita ketahui. Bukankah kita harus banyak bersyukur, karena tanpa harus banyak menghabiskan waktu dan tenaga, orang lain justru telah menyumbangkan sesuatu yang sangat berharga bagi kita?
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) adalah seorang yang maksum, terpelihara dari perbuatan yang salah, apalagi dosa. Beliau juga sangat pandai karena terbimbing oleh wahyu. Sekalipun demikian, beliau masih mendengar pendapat para Sahabat, menerima usulnya, dan menghargai sekecil apapun ide yang baik dari mereka.
Dalam perang Uhud, misalnya, beliau justru memilih pendapat para Sahabat dan meninggalkan pendapatnya sendiri, pada saat menentukan lokasi peperangan.
Ada dua hasil dari sikap mendengar yang efektif. Pertama, hubungan baik. Seorang yang pandai mendengar sangat disukai orang. Ia diterima kelompok mana saja, karena sikapnya yang tidak sombong dan rendah hati.
Mau mendengar berarti menghargai orang lain. Mana ada orang yang tidak suka dihargai? Sebaliknya, mana ada orang yang suka tidak dihargai?
Penghormatan melaui sikap mau mendengar ini merupakan cermin akhlaqul karimah yang dicontohkan para Nabi. Bahkan Sulaiman, seorang raja sekaligus nabi, mau mendengar suara semut, binatang kecil yang oleh manusia diabaikan suaranya.
Kedua, melalui mendengar seorang bisa belajar. Bagi pembelajar seperti ini, apa pun pembicaraan orang lain adalah ilmu baginya.
Kita mesti berterima kasih kepada orang lain yang mau berbicara. Sebab, melalui pembicaraannya, kita mendapat tambahan ilmu.
Betapa sering kita mencuri ilmu dari orang lain dengan cara mendengar. Orang lain barangkali tidak sengaja mengajari kita, tapi melalui pembicaraannya kita telah mencuri ilmu darinya. Mencuri yang halal adalah mencuri ilmu melalui mendengar dari percakapan orang lain.
Karena itu sebaiknya jangan hanya mendengar orang-orang yang dianggap top, penting, atau tokoh. Tapi, kita juga perlu mendengar orang-orang biasa yang bersahaja dan berwawasan luas, tanpa pandang bulu dari mana asalnya.
Mulai dari Keluarga
Lalu siapa saja yang perlu didengar? Tentu saja yang harus didengar pertama kali adalah orang-orang dekat kita, keluarga kita. Jangan lupa, mereka adalah orang-orang yang paling tulus mencintai kita.
Apa yang mereka katakan adalah sesuatu yang sesungguhnya, menunjukkan kecintaannya kepada kita. Persoalan bagaimana cara penyampaiannya, itu hal lain. Yang paling utama bagi kita adalah mendengar. Sekali lagi, mendengar!
Orangtua adalah orang nomor satu yang ucapannya harus kita dengar, positif atau negatif, benar atau salah, kita tetap wajib mendengarkannya. Tak boleh ada isyarat penolakan, apalagi sampai keluar kata-kata “ah” (Al-Isra [17]): 23).
Berikutnya adalah suami atau istri kita. Bagi seorang isteri, perkataan suami harus didengar dengan sikap yang baik dan penuh penghormatan. Demikian juga bagi suami, suara isteri harus didengar untuk mengatahui keluhannya, harapannya, keinginannya, aspirasinya, dan seluruh isi hatinya.
Suara isteri juga perlu didengar untuk mendapatkan taushiyah (nasehat) darinya. Bukankah keluarga yang baik adalah keluarga yang saling menasehati tentang kebenaran, kesabaran, dan kasih sayang?
Nabi Muhammad SAW adalah contoh suami teladan. Beliau sangat menaruh perhatian kepada para isterinya. Beliau tidak mendominasi pembicaraan, sebaliknya beliau mempersilahkan isterinya mengungkapkan isi hati dan isi pikirannya sebelum beliau berbicara. Sebelum memberi nasehat, beliau terlebih dahulu mendengarkan.
Dalam peristiwa Hudaibiyah, sejarah mencatat peristiwa penting. Di saat Rasulullah SAW galau untuk mencari cara apa lagi guna meredam kemarahan para Sahabatnya, juga keengganan mereka untuk mematuhi perintahnya, yaitu membatalkan niat umrahnya, Rasulullah SAW masuk ke tenda isterinya.
Saat itulah sang isteri mengusulkan agar beliau memberi contoh terlebih dahulu dengan mencukur rambutnya. Ide dan gagasan yang baik itu didengar oleh Nabi SAW dan dilakukannya. Hasilnya luar biasa. Semua Sahabat akhirnya mengikutinya.
Contoh berikutnya adaah Nabi Ibrahim Alaihissalam (AS), seorang bapak yang pandai mendengar. Sebelum mengeksekusi perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala, beliau meminta pendapat anaknya terlebih dahulu. Allah Ta’ala mengabadikan dialog indah tersebut dalam al-Qur`an surah Ash-Shaffat [37] ayat 102.
Boleh saja Nabi Ibrahim AS menjalankan tugas dari Allah Ta’ala untuk menyembelih anaknya secara diam-diam, di saat anaknya tidur, umpamanya. Akan tetapi cara itu tidak dipilih olehnya. Beliau lebih senang jika perintah Allah Ta’ala tersebut dilakukan secara sadar oleh keduanya.

sumber: www.hidayatullah.com

Minggu, 08 April 2012

Memaafkan itu Mudah dan Indah

Saat seseorang diusik dan dicemarkan nama baiknya, apakah yang terlintas dalam hati dan pikirannya? Mungkin ia akan tersinggung dan marah, bahkan bisa menggugat lewat hukum demi membersihkan nama baiknya.
Bagaimana jika fitnah ini menimpa seorang mukmin? Apa sikap yang harus ia ambil?
Agama kita yang mulia telah mengajarkan agar seorang mukmin mau memaafkan dan menahan kemarahannya dengan bersabar.
Berikut beberapa teladan dan tips untuk menjadi seorang yang berjiwa pemaaf.
Lingkup Masyarakat Beradab
Dalam lingkup peradaban, seharusnya al-Qur`an dan Sunnah menjadi prinsip utama menentukan sebuah kebaikan dan kebenaran. Sebab, wahyu Ilahi sudah teruji mampu mewujudkan peradaban manusia yang mulia, termasuk akhlak menghadapi orang-orang yang berlaku zalim.
Sifat ini sangat luhur. Islam memuji orang yang menghiasi dirinya dengan sifat pemaaf. Ia akan dimasukkan ke dalam golongan manusia terbaik yang akan menggapai kecintaan dan keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Islam memang membolehkan orang yang terzalimi untuk membalas dengan balasan setimpal. Allah Ta’ala menjelaskan dalam al-Qur`an Surat As-Syura [42] ayat 39 sampai 43 bahwa balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa.
Namun, agama yang agung ini senantiasa menganjurkan setiap orang untuk memberi maaf. Sebab, Allah Ta’ala menyebut yang demikian itu merupakan hal-hal yang di utamakan.
Sesungguhnya tindakan kejahatan apabila dibalas dengan kejahatan maka akan melahirkan sifat dengki dan dendam. Tetapi, jika kejahatan dibalas dengan kebaikan, maka akan memadamkan api kemurkaan, menentramkan jiwa, serta membersihkan noda-noda dendam.
Itu pula sifat yang selalu dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW). Salah satunya ketika beliau diracuni oleh seorang perempuan Yahudi .
Sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, suatu ketika Rasulullah SAW mendapat hadiah masakan daging kambing. Maka beliau memakannya, begitu pula para Sahabat.
Namun, beberapa saat kemudian, beliau bersabda, “Berhentilah kalian makan, karena sesungguhnya daging ini beracun.“
Kemudian didatangkanlah perempuan tersebut kepada Rasulullah SAW. Beliau bertanya, “Apa yang mendorong kamu berbuat seperti ini?”
Perempuan itu menjawab, “Saya hanya ingin mengetahui, kalau engkau benar-benar Nabi. (Jika engkau Nabi) maka Allah akan memberitahu apa yang ada di dalam daging itu dan sekali-kali tidak akan mencelakakanmu.”
Para Sahabat berkata, “Apakah kita akan membunuhnya?” Rasulullah SAW menjawab, “Tidak.” Beliau bahkan memaafkan perempuan itu.
Lingkup Pribadi dan Kelurga
Menjadi pribadi dan keluarga pemaaf adalah buah dari keimanan dan ketakwaan kepada Allah Ta’ala. Berikut sebuah kisah lainnya yang bisa menjadi contoh.
Disebutkan bahwa telah sampai berita kepada Imam Ahmad Rahimahulllah tentang seorang tetangganya yang mencacinya. Namun, berita itu sama sekali tidak membuatnya marah atau membalas.
Kemudian ia memanggil anaknya, lalu menyuruh menyiapkan sepiring buah-buahan. Makanan itu diantarkan kepada tetangganya yang telah mencacinya. Inilah sifat mulia yang menjadikan sebuah keluarga semakin mulia di hadapan mausia dan di hadapan Sang Khaliq.
Kebanyakan kita belum bisa bersikap seperti contoh di atas. Padahal, sebagai seorang mukmin, kita harus memiliki sifat tersebut.
Sifat pemaaf mencerminkan pemahaman hakikat akhlak yang baik. Itulah sifat yang didasari keimanan dan kasih sayang, serta kualitas tawadlu yang sejati.
Seorang yang angkuh dan suka membanggakan diri akan sulit bersikap mulia seperti itu. Sebaliknya, seorang mukmin menjadi mudah bersikap seperti itu karena menyadari kenikmatan mendapat pahala dari Allah Ta’ala jauh lebih besar dari pada sekadar memperturutkan kepuasan membalas keburukan dengan keburukan serupa.
Apalagi memberi maaf sama sekali tidak akan mengurangi kedudukan dan tidak pula menjadikan seseorang hina. Bahkan, menjadikannya mulia.
Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah Allah Ta’ala menambah kepada seorang hamba karena (pemberian) maafnya kecuali kemuliaan, dan tidaklah pula seseorang bersikap tawadlu kecuali Allah Ta’ala akan meninggikannya,”(Riwayat Muslim).
Cara Mudah Memaafkan
Ada beberapa cara gampang untuk meminta dan memberi maaf. Berikut ini di antaranya:
1. Meyakini bahwa maaf sebagai rahmat Allah Ta’ala.
Meminta maaf seringkali tidak mudah. Sebab, diperlukan kesadaran untuk menyesali kesalahan diri sendiri. Begitu pula memberi maaf, tidak gampang. Dibutuhkan kelapangan hati seseorang.
Namun, kesadaran dan kelapangan hati tetap harus diletakkan di atas landasan ilahiyah. Sebab, semuanya tergantung rahmat Allah Ta’ala, sebagaimana firman-Nya dalam al-Qur`an Surat Ali Imran [3] ayat 159.
2. Menyadari semua manusia perlu saling memaafkan.
Setiap orang pernah bersalah dan membuat orang lain tersakiti, baik sengaja atau tidak. Dan, semua harus bermuara pada kata ‘maaf’ sebagaimana dianjurkan oleh Allah Ta’ala dalam al-Qur`an Surat An-Nuur [24] ayat 22.
3. Meyakini bahwa memaafkan merupakan cara terbaik mendapatkan ampunan Allah.
Dalam al-Qur`an surat Ali Imran [3] ayat 133, Allah Ta’ala mengajak kaum Muslim agar bersegera memohon ampun demi memperoleh surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Memohon ampun ini adalah sifat orang-orang yang bertakwa, yang senantiasa memaafkan kesalahan orang lain.
Hal serupa juga dijelaskan Allah Ta’ala dalam Surat An-Nisaa [4] ayat 149.
4. Menyadari betapa rugi jika kita tidak dimaafkan Allah
Jika kita menyadari sungguh rugi apabila Allah Ta’ala tak memberi ampunan, maka kita pun akan mudah memaafkan orang lain. Hal ini terlukis dengan jelas dalam doa yang dilantunkan Nabi Adam AS serta isterinya, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya,”Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi,” (Al-A’raaf [7]: 23).
5. Berusaha sekuat tenaga menahan marah demi memudahkan lahirnya sifat pemaaf.
Sesungguhnya Allah Ta’ala menyukai orang-orang yang berusaha menahan amarahnya dengan cara memaafkan orang yang menzaliminya. Hal ini tergambar dengan jelas dalam al-Qur`an Surat Ali-Imran [3] ayat 134.
Penghalang Sifat Pemaaf
Demi menyempurnakan upaya menjadi orang yang berjiwa pemaaf, kita perlu mengetahui beberapa hal yang bisa menghalangi lahirnya sifat mulia ini, yakni
1. Sikap lalai akan pertemuan dengan Allah Ta’ala dan tuntutan pertanggungjawaban di hadapan-Nya. Hal ini disebutkan oleh Allah Ta’ala dalam al-Qur`an Surat Al-Jaatsiyah [45] ayat 26.
2. Banyaknya permasalahan dari keluarga tidak mampu diselesaikan dengan baik. Allah Ta’ala telah mengingatkan orang-orang beriman, sebagaimana disebut dalam al-Qur`an Surat At-Taghaabun [64] ayat 14, bahwa di antara isteri-isteri dan anak-anak mereka ada yang menjadi musuh.
Maka, berhati-hatilah terhadap mereka. Jika kita mau memaafkan, tidak memarahi, serta mengampuni mereka, niscaya Allah Ta’ala akan memberi ampunan kepada kita.
3. Masih sulit meninggalkan kesombongan. Padahal, Allah Ta’ala dalam al-Qur`an Surat Luqman [31] ayat 18 telah mengingatkan manusia agar janganlah memalingkan muka karena sombong dan janganlah berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sebab, hal itu tidak disukai-Nya. Wallahu a’lam bish-Shawab.
Sumber:www.hidayatullah.com

Jumat, 09 Maret 2012

Balaslah Kezaliman Dengan Memaafkan


Negeri itu menjadi saksi abadi. Di sana dahulu mereka tiada henti-hentinya menfitnahnya. Juga menyakiti dan melemparinya dengan kotoran binatang, kayu, batu, bahkan potongan besi.
Mereka juga pernah memboikotnya hingga kelaparan, mengejar, bahkan berusaha membunuhnya berkali-kali. Sampai akhirnya ia harus terusir dari tanah kelahirannyasendiri.
Mereka juga selalu mengobarkan peperangan yang membuatnya kehilangan orang-orang yang dicintainya.
Namun kini dia kembali ke negeri itu sebagai pemimpin besar. Pemimpin semua kaum Muslim. Kedatangannya dikawal pasukan berjumlah sepuluh ribu orang yang sangat setia dan siap melaksanakan apa pun perintahnya.
Sementara mereka yang dulu berbuat semena-mena luar biasa katakutan. Sebagiannya bahkan melarikan diri dengan sembunyi-sembunyi.

Haruskah Membalas?
Apa kiranya tindakan yang pantas diberikan Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW), sang pemimpin itu, kepada penduduk negeri yang dulu sangat zalim kepadanya dan kini tak punya kekuatan apa-apa?
Apakah ia akan membalas kejahatan mereka sebagaimana dulu ketika ia lemah dan ditindas oleh mereka?
Sa’ad bin Ubadah, salah seorang komandan pasukan Muslim yang memegang bendera pasukan dan merasakan betul betapa besar permusuhan bangsa Arab ketika itu, berteriak dengan lantang, “Hari ini adalah hari pertempuran! Hari ini dihalalkan semua yang terlarang! Hari ini Allah telah membuat kalian terhina!”

Namun, Muhammad SAW berkata sebaliknya.”Hari ini adalah hari Ka’bah harus dihormati! Hari ini kalian akan dimuliakan oleh Allah!”
Beliau bahkan memerintahkan agar bendera pasukan dialihkan dari Sa’ad kepada anak lelakinya karena khawatir kalau-kalau Sa’ad bertindak kasar kepada penduduk negeri itu.
Sesaat kemudian beliau berkhutbah di hadapan para tawanan yang dulu menzalimi beliau. “Menurut pendapat kalian, tindakan apakah yang hendak aku ambil terhadap kalian?”
Mereka pun serentak menyahut, “Tentu yang baik-baik wahai saudara yang mulia dan putra saudara yang mulia!”
Beliau pun berkata,”Aku katakan kepada kalian apa yang dahulu pernah dikatakan oleh Nabi Yusuf kepada saudara-saudaranya. Tak ada hukuman apa pun terhadap kalian. Pergilah kalian semua! Kalian semua bebas!”
Duhai, betapa besar jiwanya. Mereka yang dulu memusuhinya mengakui kebesaran jiwa sang pemimpin itu. Hati mereka pun terbuka dan justru berbondong-bondong menjadi pengikut setianya.

Mungkin kita bisa merasakan bagaimana keharuan menyelimuti bangsa Arab ketika itu. Orang yang dahulu mereka sakiti, bahkan juga keluarga dan para Sahabatnya, justru mau memaafkan mereka.
Lebih mengharukan lagi, akibat tindakan yang spektakuler tersebut, hubungan yang dulu terputus kini tersambung kembali. Hati yang terluka tersembuhkan lagi. Yang semula lawan berubah menjadi teman. Yang sebelumnya jahat berubah menjadi sahabat. Inilah dahsyatnya memaafkan.
Sehat Jiwa
Meski memaafkan bisa melahirkan kemuliaan, kita sendiri sering merasa berat melakukannya. Yang muncul justru sikap reaktif.
Ketika ada orang yang menyakiti kita, dengan alasan keadilan, kita pun refleks membalasnya. Bahkan tidak jarang malah berlebihan.
Kalau pun tidak mampu membalas, masih ada rasa sakit tersimpan di hati. Ada rasa dendam.
Memaafkan memang terasa berat, tapi tidak memaafkan juga memberikan efek merugikan yang tidak ringan. Orang yang membawa dendam sama saja dengan membawa beban berat sepanjang waktu. Hati ini akan sakit kala teringat seseorang yang menyakiti kita. Apalagi kalau bertemu langsung.

Rasa sakit di hati itu sesungguhnya malah semakin membelenggu jiwa kita sendiri. Potensi kita tak bisa optimal karena adanya beban itu. Berpikir pun tidak jernih lagi. Selalu berprasangka negatif.
Itulah musibah besar yang bisa mematikan pertumbuhan iman kita. Lebih-lebih bisa menutup hidup kita dari rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bukankah tanda adanya iman adalah menyintai saudaranya? Amal-amal kebaikan kita pun bisa hangus terbakar karena ada hasud pada orang yang belum kita maafkan.
Rasulullah SAW bersabda, “Hasud dapat memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu,” (RiwayatAbu Dawud dan Ibnu Majah).

Sebaliknya, dengan memaafkan, ada peluang bagi kita untuk menjadi lebih baik. Dengan memaafkan, orang yang semula memusuhi bisa menjadi teman dekat. Bahkan, menjadi pembela setia, karena mereka melihat kebesaran jiwa yang mau memaafkan.
Begitu kita mampu memaafkan, beban yang menggelayut dalam jiwa pun terlepas. Kita merasa terbebas dari belenggu. Jiwa kita pun semakin tenteram.
Mengundang Rahmat
Memaafkan termasuk perbuatan baik yang sangat utama nilainya. Memaafkan dapat mendekatkan kita pada rahmat Allah Ta’ala, sebagaimana firman-Nya,”Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat pada orang-orang yang berbuat kebaikan.” (Al A’raaf [7]: 56).
Memaafkan kesalahan orang lain bukan berarti kita membiarkan kesalahan mereka. Bukan pula kita lantas menganggap kesalahan itu sebagai kebenaran.
Kita memaafkan orangnya, tapi kita harus tetap menganggap kesalahannya sebagai sebuah kesalahan. Apalagi jika hal itu masalah prinsip.
Dengan memaafkan orangnya, kita menjadi jernih melihat masalah yang kita hadapi. Yang kita lakukan sekadar mengingatkan kesalahan mereka demi kebaikan mereka sendiri, bukan untuk melampiaskan kejengkelan kita. Dengan begitu kita bisa menjadi orang baik yang memperbaiki, shalih dan mushlih.
Membiarkan diri kita sakit hati sama sekali tak bisa menyelesaikan masalah. Lebih parah, membalasnya malah bisa kian memperburuk masalah.
Orang yang tidak mau memaafkan dan terus mempersoalkan, tidak akan mampu mengambil manfaat dan hikmah untuk kebaikan hidupnya. Rasa sakit hati juga menunjukkan kita kurang sabar dan ridha dengan ketentuan Allah Ta’ala.
Dengan tidak mau memaafkan, kita kehilangan kesempatan meraih derajat kemuliaan.
Jika kita mampu mengatasi ego dan tidak terburu menyikapi suatu masalah, kita akan mampu memaafkan dan mengambil hikmah.

Karena itu, saat hati marah, berzikirlah dengan memperbanyak istighfar. Saat zikir, hati akan lebih tenang dan jernih. Dengan zikir, rahmat Allah Ta’ala pun turun dan bisa kita akses untuk melunakkan hati.
Jika kesadaran jernih, kita bisa bersikap arif, tidak reaktif. Inilah yang dicontohkan Rasulullah SAW sebagaimana firman Allah Ta’ala,”Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka. ” (Ali Imran [3]: 159)

Hati yang jernih dan lapang akan bisa memahami keadaan orang lain dari sudut pandang orang itu.Mengapa mereka berbuat aniaya seperti itu? Mungkin karena ketidaktahuan mereka atau karena terjepit oleh keadaan.
Dengan kejernihan dan lapangnya hati, kita pun bisa bersyukur tidak mengalami hal demikian. Peristiwa itu bisa menjadi cermin yang lebih membuka hati kita. Kita bersyukur, Allah Ta’ala telah mengingatkan melalui kejadian yang menimpa kita.

Dengan kejernihan hati kita bisa membaca hikmah di balik kejadian yang menimpa kita. Karena tidak ada satu peristiwa pun yang menimpa kecuali telah dikehendaki Allah Ta’ala.
Kita jangan hanya terjebak menyesali dan sakit hati dengan kesalahan orang lain. Tetapi lihatlah hikmah di balik kejadian semua itu. Memaafkan akan melapangkan jiwa dan melunakkan hati. Nah mari kita petik dahsyatnya memaafkan dengan belajar memaafkan.

Sumber: www.hidayatullah.com

Kamis, 08 Maret 2012

Meniti Tangga Taqwa

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan Islam.” (Ali Imran [3]: 102)
Mukaddimah
Pesan utama setiap khutbah Jumat adalah ajakan untuk meningkatkan ketakwaan. Seruan takwa ini disampaikan berulang-ulang. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya persoalan tersebut. Tetapi, di sisi lain ajakan kepada takwa seringkali menjadi klise, diulang-ulang tetapi kehilangan makna. Seolah-olah ia bisa diperoleh dengan mudah, bahkan siapa pun yang mengaku Muslim sudah dianggap sebagai orang yang bertakwa, tanpa usaha sungguh-sungguh untuk meraihnya. Orang akan marah jika dikatakan bahwa ia tidak termasuk orang bertakwa atau belum mencapai derajat takwa.
Jika menilik janji-janji Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap orang-orang yang bertakwa, kita bisa menyimpulkan bahwa orang bertakwa memiliki kedudukan tertinggi di mata Allah. Tak heran, sebab orang yang bertakwa mendapat jaminan diampuni dosa-dosanya. Selain itu, ia juga bakal mendapat rezeki yang tak disangka-sangka, hingga janji-janji yang lain berupa kemudahan dalam segala urusannya. Namun sayang, menengok realitas umat Islam saat ini rasanya jauh sekali dari janji-janji Allah tersebut. Tentunya bukan karena Allah ingkar janji, tapi kualitas umat Islam yang hingga saat ini belum mampu mencapai syarat sebagai orang bertakwa yang berhak meraih janji keberuntungan dari Allah tersebut.
Makna Ayat
Imam ar-Raghib al-Ashfani mendefinisikan takwa sebagai upaya menjaga diri dari sesuatu yang menimbulkan dosa, yaitu dengan jalan meninggalkan apa saja yang dilarang Allah, bahkan meninggalkan sesuatu, yang sebenarnya tidak dilarang, karena semata-mata takut terjerumus ke dalam sesuatu yang dilarang atau dosa. Nampak jelas dari pengertian tersebut, jika orang bertakwa adalah orang yang senantiasa berhati-hati dalam segala urusan, bahkan terhadap perkara-perkara yang mubah (diperbolehkan). Alih-alih mendatangi sesuatu yang haram, wilayah syubhat (meragukan) saja niscaya ia tinggalkan. Hal ini senada dengan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Seorang hamba tidaklah akan bisa mencapai derajat ketakwaan sehingga ia meninggalkan apa yang tidak dilarang, supaya tidak terjerumus pada hal- hal yang dilarang.” (Riwayat at-Tirmidzi).
Butuh Proses
Takwa adalah sebuah proses. Layaknya tangga titian, maka ia mempunyai anak tangga sebagai jenjang tahapan dalam mencapainya. Para ulama terdahulu telah mengajarkan bagaimana mencapai derajat sebenar-benarnya takwa itu. Tak lain takwa merupakan buah dari keimanan yang kokoh yang dipupuk dengan khauf (merasa takut terhadap azab dan murka Allah), raja’ (selalu berharap atas limpahan rahmat Allah) dan muraqabatullah (merasakan pengawasan Allah).
Proses pertama yang harus dilalui dalam perjalanan menuju takwa adalah adanya khauf atau rasa takut terhadap azab dan murka Allah. Untuk menumbuhkan rasa takut ini, pertama-tama kita harus mengenali dosa dan akibatnya. Mengenal apa saja yang dilarang oleh Allah serta dampak dari perbuatan itu. Ada kalanya orang melakukan perbuatan dosa semata-mata karena ia tidak tahu jika yang dilakukannya justru dilarang dalam agama. Terlebih jika hal itu sudah lumrah dilakukan orang. Dengan perkembangan zaman, tak sedikit perbuatan dosa dan maksiat lalu direkayasa sedemikian rupa sehingga tidak tampak lagi keburukannya. Alhasil, manusia tak mampu lagi membedakan antara hadiah dan suap, antara riba dan jual beli, antara seni dan pornografi dan sebagainya.
Setelah mengenali dosa-dosa, hendaknya ia menyadari bahwa setiap dosa sekecil apa pun niscaya dicatat dan dibalas oleh Allah pada hari pembalasan nanti. Bisa jadi dosa-dosa yang tidak diperhitungkan ini yang akan menggelincirkan manusia ke dalam neraka. Berikutnya, seseorang juga harus khawatir sekiranya ia tak mampu lagi bertaubat, baik karena ajal menjemput atau karena terjerat oleh belenggu dosa-dosa yang ia perbuat. Awalnya, mungkin iseng mencoba berbuaat dosa, lalu mengulangi dan mengulanginya lagi hingga akhirnya terjerat oleh dosa dan kemaksiatan tanpa mampu membebaskan diri lagi.
Satu hal yang pasti, setiap perbuatan dosa akan menelurkan dosa-dosa berikutnya. Orang yang berjudi misalnya, kalau menang maka menghamburkan duit itu dengan kemaksiatan yang lain: mabuk-mabukan atau bahkan berzina. Tidak mungkin ia sumbangkan untuk membangun masjid. Sebaliknya, jika ia kalah taruhan, bisa jadi ia gelap mata melakukan kekerasan, pencurian, dan bahkan pembunuhan.
Titian tangga takwa berikutnya adalah raja’ atau harapan atas limpahan rahmat Allah kepada hamba-Nya. Untuk menumbuhkan rasa harap ini hendaknya kita mengenali setiap kebaikan. Mengenal apa saja yang diperintahkan Allah. Makan, minum, tidur, bekerja, melakukan hubungan suami-istri dan sebagainya adalah hal-hal keseharian yang dikerjakan manusia. Seringkali orang melakukannya semata-mata insting kemanusiaan tanpa menyadari bahwa itu perintah Allah. Karena itu, hendaknya kita menyadari bahwa Allah memerintahkan kepada kita setiap kebaikan dari hal terkecil sampai yang terbesar. Untuk setiap kebaikan, Allah menyediakan balasan yang berlipat ganda. Bisa jadi manusia tidak menghargai kebaikan kita, tetapi sungguh Allah tidak pernah menyia-nyiakan kebaikan itu sekecil apa pun.
“…Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan.” (Hud [11]: 115).
Anak tangga berikutnya adalah muraqabatullah atau merasakan pengawasan Allah. Orang yang bertakwa selalu siap menyambut perintah Allah. Di mana saja dan kapan saja. Ketika sendirian maupun ketika bersama orang lain. Mereka juga meninggalkan setiap keburukan. Di mana saja dan kapan saja. Ketika sendirian maupun ketika bersama orang lain. Bukanlah muraqabah ketika orang itu hanya mampu menjalankan kebaikan saat bersama banyak orang dan tidak bisa lagi melakukannya ketika sendirian. Demikian juga ketika orang sanggup meninggalkan keburukan hanya saat bersama banyak orang, tetapi berani mengerjakannya ketika seorang diri.
Karenanya, para ulama membedakan antara hal-hal yang seharusnya dilakukan secara terang-terangan dan mana yang sebaiknya dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Amalan yang bersifat wajib seperti shalat fardhu, zakat, puasa Ramadhan, menutup aurat, lebih baik ditampakkan bahkan sebagiannya memang harus dilihat oleh orang lain. Sebaliknya, amalan sunnah seperti shalat sunnah, puasa sunnah, sedekah, sebaiknya dikerjakan sembunyi-sembunyi, kecuali kita yakin bahwa hal itu untuk syiar Islam serta tidak menodai keikhlasan kita.
Shalat fardhu ‘wajib’ dilaksanakan berjamaah di masjid sedang shalat sunnah dianjurkan dikerjakan di rumah masing-masing. Jika seseorang menyadari akan pengawasan Zat Yang Mahatahu, niscaya mengantarkan ia untuk selalu berhati-hati dan merasa khawatir terjerumus dalam dosa serta berhati-hati agar tidak ada perintah-Nya yang terlalaikan.

Sumber: www.hidayatullah.com

Senin, 30 Januari 2012

Pembunuhan karakter yang sangat kejam

Assalamu'alaikum wr. Wb.

Oktober tahun 2006, seorang juri yang disebut ustadz berkata kepada salah satu kontestan Pildacil yang baru saja usai memberikan “tau­shiyah”. Juri ini berkata, “Kamu terbaik saat ini. Ini yang diinginkan juri. Beberapa tahun ke depan, rumah dan mobil kamu akan mewah. Kamu juga akan bisa membangun masjid.”

Fantastis. Sebuah “nasihat” yang membuat miris, sehingga tak cukup hanya dijawab dengan tangis. Sebuah “nasihat” yang seharusnya membuat orangtua ngeri membayangkan masa depan anak-anaknya, kecuali jika pertanyaan yang menguasai benak kita tentang anak-anak adalah apa yang akan mereka makan sesudah kita tiada. Bukan apa yang mereka sembah, sehingga apa pun yang mereka kerjakan hanya untuk Allah subhanahu wa ta’ala.

Bukan­kah Allah Ta’ala sudah berfirman?

قُلْ إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
لاَ شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَاْ أَوَّلُ الْمُسْلِمِي

“Katakanlah: "Sesungguhnya shalat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)".” (Al-An’aam: 162-163).

Inilah orientasi hidup yang perlu kita hunjamkan ke dada anak-anak kita. Kita hun­jamkan keinginan untuk menolong agama Allah ke dalam hati mereka sekuat-kuatnya. Semoga dengan itu, ia menjadi orang yang ikhlas dalam memberikan hartanya, hidupnya, dan dirinya bagi agama ini. Sesungguhnya, amal itu bergantung pada niat. Jika anak-anak itu kelak menyembah Allah karena mengharap dunia, maka mereka tidak akan memperoleh akhirat. Sedangkan dunia belum tentu mereka dapatkan. Na’udzubillahi min dzaalik.

Adapun jika mereka membaktikan shalat, ibadah, hidup dan matinya untuk Allah semata-mata, maka sesungguhnya Allah Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Insya Allah mereka akan mampu menggenggam dunia dengan tangan kanannya, sedangkan di akhirat menanti surga yang penuh barakah. Allahumma amin.

Kuatnya orientasi hidup inilah yang harus menjadi perhatian kita; para orangtua dan pendidik di sekolah. Bahkan seandainya yang kita inginkan dari mereka adalah kesuksesan karier di dunia ini, kita harus menanamkan pada anak-anak kita orientasi hidup yang kuat dan bersifat spiritual.

Dalam tulisannya yang bertajuk Educational Psychology Interactive (2000), W. Huitt menunjukkan bahwa seorang brilliant star (bintang brilian) –istilah Huitt tentang me­reka yang memiliki prestasi luar biasa melebihi orang-orang sukses pada umumnya—biasa­nya memiliki ciri spiritual yang sangat khas, yakni disciple & devout. Disciple berarti ia sangat percaya pada gagasan atau ajaran seorang pemimpin besar atau guru spiritual. Sedangkan devout menunjukkan ketaatan yang sangat kuat.

Masih menurut riset W. Huitt. Seorang brilliant star juga memiliki ciri sosial yang tran­senden. Apapun yang ia lakukan di masyarakat adalah dalam rangka mewujudkan perintah Tuhan di muka bumi dan menjadi pelayan yang rendah hati bagi ummat manusia. Ia berbuat banyak, bahkan melampaui yang bisa dilakukan orang lain, tetapi selalu merasa belum ber­­buat apa-apa yang pantas bagi orang lain. Ia banyak memberi manfaat, tetapi selalu merasa apa yang dilakukan belum cukup untuk mensyukuri nikmat Allah ‘Azza wa Jalla.

Apa yang bisa kita petik dari catatan Huitt tentang bril­liant star? Kunci paling pokok untuk mengantarkan anak meraih sukses adalah membentuk jiwanya, membangun motivasinya, membakar semangatnya, dan mengarahkan orientasi hidupnya semenjak dini. Kita bakar semangatnya untuk bersungguh-sungguh melakukan yang terbaik demi sebuah idealisme yang buah­nya ada di surga. Kita tumbuhkan pada dirinya orientasi hidup yang bersifat spiritual sejak usia kanak-kanak. Kita bangkitkan cita-cita untuk menjadi orang yang paling banyak memberi manfaat bagi agama ini dengan harta dan jiwanya.

Ini semua merupakan akar motivasi. Di sekolah, hal-hal yang bersifat motivasional tersebut secara keseluruhan termasuk bagian dari dasar-dasar berpengetahuan (the basic of knowing); bagian penting pendidikan yang harus kita bangun pada para peserta didik di jen­jang sekolah dasar, terutama kelas satu sampai tiga. Mudah-mudahan dengan itu anak kita memiliki motivasi intrinsik yang kuat. Bukan motivasi ekstrinsik, yakni tergeraknya seseorang melakukan sesuatu karena dorongan dari luar. Bukan karena merasa apa yang dilakukannya itu baik dan memang seharusnya dilakukan.

Jika motivasi intrinsik memiliki akar yang kuat sehingga sulit diruntuhkan, maka motivasi ekstrinsik justru mudah patah tanpa perlu kita patahkan. Semakin intrinsik motivasi seseorang, semakin kuat daya tahannya melakukan sesuatu dengan penuh semangat.

Pada masa kanak-kanak, motivasi masih dalam proses perkembangan. Fase pemben­tukan yang paling penting berada pada rentang usia 0-8 tahun. Selanjutnya, usia 9-12 tahun merupakan fase penguatan. Secara umum, anak-anak mencapai kemapanan motivasi pada usia dua belas tahun. Artinya, pada usia ini motivasi anak cenderung stabil, meskipun masih ada kemungkinan berubah. Jika pada usia-usia sebelumnya orangtua dan guru secara terus-menerus membangun motivasi intrinsiknya, insya-Allah pada usia ini kuatnya motivasi su­dah menjadi karakter anak.

Nah, apakah yang ditawarkan di acara yang bernama Pildacil? Anak-anak dilatih menirukan ceramah –bukan mengekspresikan gagasan secara alamiah—untuk meraih mimpi-mimpi tentang uang yang berlimpah, umroh gratis dan bahkan sekaligus ambisi punya rumah mewah seperti komentar juri yang saya kutip di awal tulisan ini.

Lalu, akan kita bawa ke mana anak-anak kita jika di usianya yang masih sangat belia, sudah sibuk mendakwahkan agama untuk meraih dunia? Padahal, hari ini mereka seharusnya membangun motivasi yang kuat, budaya belajar yang kokoh, integritas yang tinggi, dan visi besar yang bernilai spiritual.

Wallahu a’lam bishawab.

Di luar itu semua, ada beberapa hal yang memprihatinkan bagi perkembangan mereka di masa mendatang, terutama jika mengingat bahwa tidak mungkin mereka bisa tampil di Pildacil kecuali karena ada potensi besar pada diri mereka. Pertama, jika melihat cara mereka berbicara dan sorot matanya saat tampil, tampak betul bahwa mereka bukan sedang mengekspresikan gagasan. Tetapi mereka sedang belajar mengambil jalan pintas. Mereka menjadi kaset yang diputar ulang. Materi ceramah dan gaya berbicara, tidak sedikit yang menunjukkan bahwa bukan diri mereka yang tampil. Barangkali tidak disadari, cara seperti ini merupakan pembunuhan karakter positif anak.

Kedua, di saat anak-anak harus belajar beramal dengan ikhlas dan gigih berusaha, mereka melihat kenyataan bahwa yang membuat mereka hebat bukan usaha keras mereka untuk berbicara dengan sebaik-baiknya, tetapi seberapa banyak SMS yang masuk untuk dia. Di banyak tempat, pembunuhan karakter berikutnya terjadi: dari orangtua, pejabat pemerintah hingga pemuka agama yang tidak visioner berlomba mengeluarkan dana sekaligus menyeru untuk berkirim SMS sebanyak-banyaknya. Sekali lagi, anak belajar praktek manipulasi. Pada­hal orang dewasa pun seharusnya tetap belajar untuk secara jujur mengakui keutamaan orang lain dan berusaha mengambil pelajaran dari orang lain yang lebih baik.

Dampak lebih jauh dari praktek manipulasi suara –sebagian orangtua bahkan sampai menjual harta berharga untuk mendongkrak perolehan SMS—masih sangat panjang.

Tetapi belum cukup kuat hati saya untuk membahasnya saat ini. Semoga Allah berikan kepada saya kekuatan untuk menulis yang lebih tuntas di waktu mendatang.

Ketiga, anak-anak yang seharusnya belajar membangun visi hidup dan orientasi spiritual, justru kehilangan elan vital (daya hidup) untuk terus mencari ilmu dengan sebaik-baiknya karena fokusnya justru bagaimana menarik perhatian publik. Bukan menyampaikan apa yang baik. Bukankah apa yang harus disampaikan sudah dilatihkan?

Tiga hal ini hanyalah sebagian alasan mengapa kita harus menahan diri agar tidak menjerumuskan anak-anak kita ikut Pildacil. Terlalu kecil harga yang mereka terima untuk sebuah kehilangan yang sangat besar.

Anak-anak itu sangat luar biasa potensinya. Alangkah besar manfaat yang bisa dipetik oleh agama dan ummat manusia jika kita memilih membangun kekuatan jiwa, aqidah, iman, akal budi dan kegigihannya saat ini sehingga kelak mereka bisa memberi kebaikan yang sebesar-besarnya. Betapa pun, harus kita akui dengan jujur, Pildacil sama sekali bukan untuk melakukan pembibitan generasi Islam.

Pildacil adalah bisnis dan hiburan, karena hanya inilah kamus yang dikenal oleh TV!.*

sumber : www.hidayatullah.com